Campur Sari Arjuna
Berharap Tak Kalah dengan Electone
Campur Sari, sebuah kesenian tradisional yang kehadirannya mensaratkan budaya Jawa rupanya masih tetap eksis di tengah era musik pop. Alunan gamelan Jawa diiringi gendang mengiringi penyanyi mendendangkan gending-gending (lagu) Jawa yang kental dengan cengkok khasnya. Campur Sari Arjuna, salah satu grup campur sari dari desa Bayem Taman, Ngawi mencoba menghidupkan dapur mereka dengan menjual jasa hiburan. Berikut perjalanan Campur Sari Arjuna yang meski berada di desa namun mampu merambah pentas kota.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi pasangan Sukamto,35, dan Djarwati,35, dalam mengenalkan Campur Sari Arjuna milik mereka. Berdiri di tahun 2004, personil Campur Sari Arjuna sempat tidak diberi honor selama dua tahun karena masa promosi dan perbaikan alat. Namun ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat grup ini untuk terus berlatih dan menghibur para penggemarnya. Terbukti, saat ini grup Campur Sari Arjuna sudah terkenal hingga luar kota. Mereka pernah pentas di Bojonegoro, Sragen, dan kota-kota lain sekitar Ngawi.
Selaku pemilik, Sukamto menjelaskan bahwa selain untuk mencari nafkah, kehadiran Campur Sari Arjuna juga bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Komitmen dalam pengembangan kesenian menjadikan Sukamto dan istri semakin getol dalam mengembangkan grup mereka. Nama Arjuna sendiri merupakan kepanjangan dari Andarbeni (saling menghargai), Rumongso (perasa), Jujur, Ulet, Narimo (mau menerima), dan Amor Bolo (berkumpul bersama teman). Sebuah nama yang memilki arti pentingnya menjalin relasi dengan orang lain tersebut merupakan motivasi bagi grup Campur Sari ini.
Campur Sari Arjuna terdiri dari 15 personil yaitu 3 vokalis, 1 MC, 2 perlengkapan, dan 9 pemain alat music. “Yang ngemci ya saya sendiri, sedangkan istri membantu menyanyi lagu-lagu campur sari,” kata Sukamto sambil memperlihatkan senyum sumringah meski badannya sedikit capek karena baru pulang tanggapan (pentas). Diakunya bahwa semua personil campur sarinya tidak terikat. Hal ini berarti, mereka boleh ikut kelompok campur sari lain. “Mboten purun (tidak mau) terikat, jadi kalau ada yang nanggep kita cari personil. Kalau pas lagi tidak main,ya kita ambil untuk main,”tambahnya.
Berbagai suka mengiringi perjalanan Campur Sari Arjuna. Namun tak jarang, batu kerikilpun kerap menyandung langkah mereka. Rasa suka itu hadir ketika banyak tawaran job datang menghampiri, khususnya di bulan Syawal, Besar, Rejeb, dan Ruwah. Menurut penanggalan Jawa, bulan-bulan tersebut adalah bulan yang bagus untuk melaksanakan hajatan. Dalam sebulan mereka bisa pentas hingga 10 kali dengan dibayar 1,5 juta per hari dalam acara-acara seperti khitanan, hajatan, maupun resepsi pernikahan. Namun, jika bulan Suro dan Sela datang, mereka tak lagi main karena adat Jawa tidak memperbolehkan adanya kegiatan dalam bulan tersebut. Dengan semakin banyaknya job yang mampir, relasi dan pengalaman merekapun semakin bertambah. Kegembiraan datang ketika banyak yang mengenal keberadaan mereka serta kagum akan kepiawaian Campur Sari Arjuna, dalam menghipnotis para penonton lewat lantunan music Campur Sari.
Grup yang mendapat bantuan alat music dari Kabupaten ini mengaku bahwa sekarang mereka mempunyai banyak pesaing. Pesaing-pesaing tak hanya berasal dari kelompok Campur Sari lain, namun juga berasal dari kemajuan jaman yang semakin meminggirkan kesenian tradisional. “Sekarang orang-orang suka yang simpel dan ringkes. Kita harus bersaing dengan electone campur sari,”kata Djarwati mengeluhkan nasib campur sari tradisional. Berbagai perbaikan kualitas telah dilakukan Sukamto dan Djarwati, mulai dari pembenahan alat yang ditambah dengan drum pemberian pemerintah sampai peningkatan kualitas olah vocal para vokalis.
Pasangan yang dikaruniai satu anak ini, Irfan Rifa’I,10, belum menemukan kader-kader muda penerus Campur Sarinya. Meski begitu, semangat mereka menghibur tak akan pudar hingga lanjut usia. Mereka akan terus bercampur sari sambil mencari pengganti, para muda yang punya komitmen dalam mengembangkan campur sari dan mencintai budaya Jawa dengan tulus. (nez)
Clara Inestya Pratama
070810471

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: