Pulang Pergi, Demi Sebuah Harapan

Surabaya,-Tanjung Perak, tepi laut, siapa suka boleh ikut…..”. Itulah slah satu lirik lagu yang tentunya sudah tak asing lagi di telingan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Timur. Salah satu lirik lagu yang menyiratkan keadaan kota Pahlawan ini. Dengan total penduduk yang mencapai hampir 3 juta juga sebagai pusat perindustrian, perdagangan, dan bisnis, yang menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota tujuan para imigran.. Mereka memiliki harapan besar, yakni memperoleh kehidupan yang lebih baik di tengah kerasnya kota metropolitan terbesar ke 2 setelah Jakarta, dan dampak krisis global yang tengah mendera bangsa ini.

Ditemui di rumahnya, Wendi, sedang menggendong anaknya yang masih balita. Nampak dari raut mukanya, dia begitu lelah setelah semalaman bekerja di salah satu perusahaan call centre di Surabaya. Saat itu memang dia mendapat shift malam. Yah, itulah Wendi, (35), dia adalah salah satu dari sekian banyak penglaju yang harus pulang pergi Surabaya Sidoarjo atau luar kota untuk sebuah harapan kecil. Harapan mempertahankan hidup di tengah krisis yang mendera bangsa ini. Lelaki yang mendapat gelar Strata 1 (S1) di Universitas Bhayangkara ini mulai bercerita mengenai pengalamannya. “Saya sudah 3 tahun bekerja di Surabaya”, tuturnya. Meski mengaku lelah , namun bekerja di Surabaya harus tetap dia lakukan. Karena ayah satu anak kini harus menanggung biaya hidup kedua orang tua, adik, istri, dan seorang anaknya.

Di rumah kontrakan yang berukuran 10 x 18 itu dia tinggal bersama anak dan istri. Sementara kedua orang tua dan adiknya tinggal tak jauh dari situ. Selain menjadi karyawan swasta, orang yang hobi sepak bola ini juga memiliki usaha dagang serba – serbi olahraga. “Saya baru 3 bulan ini mencoba usaha ini, dan alhamdulilah lancar”, ujarnya dengan senyum.Di depan rumahnya yang beralamatkan Jalan Wedoro Madrasah no.46 ini terdapat toko berukuran 3 x 4 untuk memamerkan dagangannya. Barang dagangannya antara lain kaos tas, celana pendek, sampai pakaian anak – anak. Semuanya masih tak jauh dari unsur sepak bola.“Selain untuk mencari laba, usaha saya ini juga mendukung hobi saya akan sepak bola”, imbuhnya. Inilah usaha yang dia tekuni 3 bulan terakhir, tentunya selain menjadi karyawan swasta.

Wendi sendiri sudah 3 tahun bekerja di salah satu perusahaan call centre di Surabaya. Kantornya terletak di daerah Menur, kurang lebih 15 km dari rumahnya. “ Di kantor ada 2 shift mbak, sore dan malam”, terangnya memperjelas. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk menempuh harak dari rumah ke kantornya. “ Telat adalah hal yang sudah wajar, hamper setiap hari harus gelisah , apalagi kalau sedang macet”, ujarnya mengisahkan. Itulah hidup yang harus dia lakukan setiap hari, perasaan gelisah, khawatir, sudah menjadi bagian yang biasa dari hidupnya

Faktanya, masih banyak Wendi – Wendi lain di luar sana. Orang yang harus berjuang dan menggantungkan harapannya pada kota Surabaya. Tak hanya sekedar pulang pergi Surabaya Sidoarjo. mungkin lain daerah yang lebih jauh jarak geografisnya dari Surabaya.Inilah hidup, yang setiap saat harus berjuang untuk tetap bertahan dan tentunya demi sebuah harapan. Harapan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, orang tua, keluarga, bahkan orang lain.

Oleh : Ayu Retma N. S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: