Krupuk Kriuk, Capnya Angin Doang

Industri makanan ringan memang selalu jadi lahan basah yang tak pernah kering. Pasalnya, meskipun kondisi keuangan terpuruk, seringkali kebiasaan ngemil tak bisa dihindari. Salah satu yang paling murah adalah ngemil kerupuk. Permintaan untuk produksi kerupuk tak pernah surut. Produsen pun makin banyak dan bersaing ketat.

Tak cukup cerdik untuk bertahan di industri tingkat UKM ini. Licik ternyata juga diperlukan. Agak kasar memang istilahnya, namun memang begitu adanya. Kerupuk-kerupuk berbagai jenis yang dititipkan di warung-warung membuat konsumen harus memilih. Dengan bungkus yang polos, tentu konsumen bak memilih kucing dalam karung.

Nah, untuk itulah, supaya dikenal dan dihafal, banyak produsen kerupuk kemudian mengambil inisiatif untuk memberi cap pada bungkus kerupuk dagangannya. ”Kalau ada capnya, dihafal, kelihatan bagus dan bisa naik kelas ke rumah makan,” ungkap Rosidah (bukan nama sebenarnya).

Seperti pengemasan pada umumnya, cap itu berisi merk dagang, rasa, komposisi, tempat produksi hingga No Izin Depkes RI. Apakah semua benar? Jangan tertipu dulu karena semuanya sangat mungkin hanyalah hasil rekayasa. Ya, seperti yang dikatakan tadi, kadang harus licik untuk berdagang.

Di Surabaya timur, tepatnya di daerah Semampir, penduduk yang menjadi pedagang kerupuk tak sedikit jumlahnya. Di suatu RT bahkan terdapat lima penduduk pedagang kerupuk. Ada pedagang yang mengolah dari bahan mentah, diolah hingga menjadi kerupuk yang siap supply ke warung. Ada juga yang hanya membeli kerupuk mentah dari pasar induk, menggorengnya dan mengemasnya.

Dari lima penjual tersebut dua diantaranya merekayasa cap yang ada di bungkus krupuknya. Sebut saja namanya Rosidah dan Irman. Keduanya mengaku, kerupuknya lebih laris jika dijual dengan cap. ”Saya jual dua, ada cap dan nggak. Kalau yang ada capnya cepat habis kalau yang nggak, agak lama. Cuma bondo sablon bungkus, harga bisa naik tinggi,” jelas Rosidah, 38.

Menurut Rosidah, cap ini membuat konsumen jadi mencari, hafal dengan namanya. Meskipun kerupuk mentah dibeli di pasar induk, dan artinya banyak pedagang menggoreng produk yang sama, cap adalah sesuatu yang membedakan. “Rasa kerupuk kan bisa tergantung menggorengnya juga,” ujar Irman, 45.

Saat ditanya kebenaran capnya secara terpisah, mereka berdua sama-sama hanya tertawa. Mereka menjelaskan kalau cap itu langsung pesan saja. Di kerupuk milik Rosidah, di tulis kerupuk itu produksi di Sidoarjo lengkap dengan nomor izin depkes. Pdahal kenyataannya, jelas-jelas kerupuk itu diolah di Surabaya dan tidak ada izin depkes.

Apa yang dilakukan Rosidah, tak berbeda jauh dengan Irman. Ia menuliskan kerupuknya produksi Nganjuk. Hanya bedanya ia tak berani mencantumkan nomer. ”Wah, saya agak ngeri kalau pakai nama depkes. Meskipun, saya berani jamin krupuk ini sehat seratus persen, hahaha,” jawabnya sambil berkelakar.

Percaya tak percaya, begitulah makanan yang anda konsumsi. Tak peduli di rumah makan atau di pinggir jalan. Packaging yang meyakinkan belum jaminan seratus persen yang ada tertulis itu benar. Tak hanya kerupuk, barangkali sambil membaca tulisan ini, makanan yang anda makan juga palsu komposisi, kandungan gizi atau apapun didalamnya.(puspita/070810462)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: