Keceriaan Di Balik Kerasnya Kehidupan Jalanan

“Mas, Dimas ayo maen, nang kono lho!” ucap Bocah berumur 3 tahun yang mengajak temannya bermain. Keceriaan tampak di raut wajah bocah itu. Ia dengan semangat berlari ke jalan sambil memutarkan tangannya ke atas berulang kali. “Ayo Ris, cepetan larine, ojok suwi – suwi” timpal teman bocah itu, yang umurnya sebaya. Setelah sampai di tempat bermainnya, mereka dengan ceria bermain petak umpet. Keceriaan mereka mengalahkan ramainya suara lalu lalang kendaraan yang melintas di Jalan Rajawali. Ketakutan tak tampak sedikitpun di wajah mereka, walaupun keadaan jalan sangat ramai dan banyak kendaraan yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Ceria : Fariz dan Dimas sedang bermain di jalanan

Ceria : Fariz dan Dimas sedang bermain di jalanan

Dimas dan Fariz, itulah mereka. Bocah berumur 3 tahun yang tinggal dipinggir Kali Mas di Jalan Rajawali. Mereka menghuni tempat yang tidak layak huni. Beralaskan kerdus bekas, berdinding terpal, dan beratapkan tembok bekas halte bis. Di situlah mereka tinggal dan dibesarkan. Mereka tinggal bersama kedua orang tuanya dan beraktivitas mulai bangun tidur, makan, hingga tidur kembali di tempat yang sama. Tidak ada ruang atau sekat yang memisahkan tempat tidur dan dapur yang sebenarnya tidak layak disebut dapur. Tempat tinggal berukuran 4 x 4 meter adalah tempat mereka bermain dan mengenal pelajaran baru di kehidupan yang keras.

Deru suara kendaraan, asap polusi, dan bau kali yang tidak sedap menjadi santapan sehari – hari bagi mereka. Bagi anak – anak seumurnya tempat itu seharusnya tak lazim untuk di tinggali. Tetapi kedua balita kecil ini seakan tak peduli, keceriaan tetap nampak di raut wajah kedua bocah ini. Senyuman selau tersungging di bibir manis mereka. “Main di jalan asik mas” ucap Fariz saat di tanya perasaan mereka saat bermain di jalan. Tempat yang dingin, aman, dan penuh dengan mainan adalah tempat yang semestinya mereka huni. Bukan jalanan yang penuh bahanya, kendaraan, dan kekerasan yang kerap kali menimpa anak jalanan.

Itulah kisah kedua bocah yang bahkan belum mampu menyebutkan nama lengkapnya, tetapi dengan usia yang sangat muda harus menghadapi kerasnya kehidupan jalanan di kota Surabaya. Pemerintah semestinya memfokuskan perhatian pada penerus bangsa ini, terutama anak jalan seperti Dimas dan Fariz. Akankah pemerintahan selanjutnya akan memperbaiki kehidupan mereka? Ataukah hanya sebuah janji belaka? Tentu kita tidak ingin ada lagi anak – anak Indonesia yang bernasib seperti Dimas dan Fariz. (De Laguna Latanri Putera / 070810654)

2 responses to this post.

  1. wuic..
    mengagumkan.. salut

    Reply

  2. Posted by fahmi on January 6, 2010 at 3:33 pm

    moga ja nak ni gede nya,,,! jadi orang yang bener…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: