Hidup dengan Menjual ‘Sinar’ Bekas

Surabaya, kota kedua terbesar di Indonesia, memberikan daya tarik tersendiri bagi kaum urban dari pedesaan. Persaingan hidup yang semakin ketat tidak menggentarkan mereka mengadu nasib di Surabaya. Bekerja apa saja dilakukan untuk bertahan hidup. Termasuk menjual barang bekas pakai seperti lampu. Di Jl. Kapasari Surabaya, belasan penjual berjejer tiap malamnya.

Abdul Kadir, 51, adalah salah satu penjualnya. Bapak 3 anak ini memulai usahanya dari tahun 1996. Sekaligus orang pertama yang menjual lampu bekas di kawasan tersebut. Hingga saat ini, ada belasan penjual lampu bekas yang mangkal di sekitar tempatnya berjualan. Termasuk ketiga anaknya. ”Dulu, cuma saya yang jualan disini. Tapi, lama-lama banyak yang ikut. Sampai sekarang ada 11 orang yang jualan,” ujarnya dengan logat Madura.

Awal merantau ke Surabaya, pria kelahiran Sampang ini bekerja sebagai satpam di sebuah dealer motor. Lalu berpindah profesi menjadi pedagang kaki lima. ”Awalnya saya dulu jualan alat bangunan. Lalu kena obrakan (razia –red). Barang habis, nggak punya modal. Jadilah jualan lampu bekas seperti ini,” kenang Abdul Kadir. Pertama kali berjualan, dia hanya menjual lima lampu bekas. Dan sekarang dia mampu menjual 100 lampu bekas. ”Tapi pendapatan saya nggak tentu. Kadang sepi, kadang ramai. Kalau ramai bisa habis 100 lampu, tapi kalau sepi paling laku 5 lima lampu. Malah pernah juga nggak laku sama sekali,” ujarnya.

Sedangkan lampu bekas itu sendiri diperoleh dari pemulung langganannya di Pasar Turi. Lampu bekas ini dikumpulkan oleh pemulung dari tempat sampah, yang dibuang oleh pemiliknya karena rusak. Lampu rusak ini dibeli Abdul Kadir seharga Rp 1000 per 6 biji. Lalu, lampu rusak itu diperbaiki hingga bisa nyala kembali. Pria yang tidak pernah mengenyam pendidikan ini, belajar  memperbaiki lampu secara otodidak. ”Caranya, saya bandingkan lampu bagus dengan lampu rusak. Kira-kira apanya yang berbeda. Lalu, saya coba-coba, akhirnya lampu rusaknya bisa nyala,” katanya. Dengan bekal keterampilan itu, sekarang Abdul Kadir dapat memperbaiki 100 lampu rusak dalam waktu dua jam. ”Tapi nggak semua lampu bisa diperbaiki. Kalau lampu neon yang bulat panjang itu nggak bisa. Kalau lampu biasa (lampu hemat energi dan sejenisnya –red) cepat saya perbaiki. Itu juga yang masih utuh, kalau rusaknya karena pecah, alatnya didalamnya itu yang diambil, lalu badannya dibuang. Nggak bisa dipakai itu,” jelas pria yang beralamat di jalan Ngaglik ini.

Harga jual yang ditawarkan pun miring. Lampu paling murah seharga Rp 5000, sedangkan yang paling mahal seharga Rp 12.500. Semakin tinggi dayanya (watt –red) semakin mahal harganya. Dibandingkan dengan lampu yang baru, kualitas nyala lampu tidak diragukan. Selain itu, lampu bekas ini juga memiliki garansi selama sebulan. ”Nyala lampu bekas sama saja dengan lampu yang baru. Bedanya, kalau lampu bekas agak kotor, kalau lampu baru kan bersih,” tambahnya. Pelanggan lampu bekas Abdul Kadir tidak hanya warga Surabaya. Kebanyakan dari luar kota, seperti Jember dan Malang.

Merantau ke kota besar ternyata tidak cukup bermodalkan tekad saja. Perlu keahlian dan keterampilan agar tidak tergilas kerasnya persaingan.  (Niken Febrina)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: