Flash Fiction, “Saudaranya” Cerpen Yang Lebih Diminati Dibaca Online

Pernahkah anda mendengar tentang flash fiction? Flash fiction termasuk ke dalam jenis cerita pendek, namun panjangnya lebih pendek dari cerita pendek (cerpen). Kalau panjang cerpen berkisar antara 5-8 halaman atau lebih, maka flash fiction hanya memakan tempat 1-3 halaman saja. Bahkan bisa juga dibuat kurang dari satu halaman. Lantas, apa yang bisa diceritakan dengan “durasi bercerita” sesempit itu?

Dalam flash fiction, latar belakang tokoh ataupun peristiwa tidak perlu diceritakan secara detil. Flash fiction lebih fokus pada konflik, sehingga mungkin sekali pembaca akan langsung dibawa pada klimaks dan diikuti penyelesaian atau ending. Jadi bisa diibaratkan ketika kita membacanya, kita langsung berada di dekat puncak, lalu naik ke puncak dengan cepat, dan meluncur turun ke bawah begitu saja. Hampir sama dengan naik roller coaster, selalu ada kejutan yang dihadirkan penulis dalam flash fictionnya, entah di konflik, atau justru di penyelesaiannya.

Tidak diperlukan banyak tokoh dalam sebuah flash fiction, dan konflik yang muncul pun cukup satu saja. Biasanya konflik hanya terjadi antar dua orang dalam satu waktu. Karena cara bercerita yang cepat, penulis flash fiction cenderung langsung “menembak” konflik tanpa perlu repot-repot memperkenalkan latar belakang konflik pada pembaca. Mungkin karena hal ini, beberapa pembaca yang baru pertama kali membaca flash fiction suka merasa bingung. Karena memang sedikit penjelasan yang bisa mereka dapatkan jika membaca flash fiction dibandingkan jika membaca cerpen.

Kendati belum seberapa populer, namun flash fiction lebih diminati para pembaca online. Salah satu karakter netter (pengguna internet) yang saya ketahui adalah mereka lebih menyukai membaca sesuatu yang pendek daripada yang panjang. Seringkali mereka bosan jika harus membaca yang panjang. Dan bagi yang waktu berinternetnya terbatas, mereka pasti tidak bebas untuk membaca suatu tulisan yang panjang. Biasanya mereka simpan saja untuk dibaca offline, sehingga membuat mereka lupa untuk meninggalkan komentar jika suatu saat online lagi. Kebiasaan ini sudah cukup dikenal para penulis online, sehingga mereka suka menyajikan flash fiction di website pribadi mereka. Mereka sebagai penulis senang karena tidak harus memaparkan detil cerita yang kurang penting, pembaca pun senang karena tidak sampai lima menit mereka sudah tamat membaca dan bisa langsung memberikan komentar. Pengunjung pun bertambah banyak dan pada akhirnya penulis semakin senang karena karyanya dibaca lebih banyak orang.

Ya, flash fiction memang praktis. Ringkas tapi “dalam”. Karena panjang ceritanya pendek, penulis flash fiction dituntut untuk meninggalkan kesan yang dalam pada pembacanya. Konfliknya harus “kena” di hati pembaca agar mereka terkesan dan tidak sabar untuk membaca hingga tuntas dan meninggalkan komentar atas cerita tersebut.

Begitulah flash fiction bekerja. Sejauh ini, flash fiction yang saya baca di internet selalu menarik. Konflik yang hadir banyak ragamnya, namun untuk membacanya saya tidak memerlukan waktu yang lama. Dan flash fiction kini memang masih populer diterbitkan secara online saja, sebab buku kumpulan flash fiction di pasaran masih sangat terbatas. Di koran dan majalah pun jarang bisa kita temukan flash fiction. Padahal panjang ceritanya tidak memakan halaman yang banyak, sehingga bisa menghemat kertas. Atau flash fiction tidak bisa masuk majalah ataupun koran karena jumlah halamannya kurang mencukupi? Menurut Anda? (**za**)

Contoh flash fiction bisa dibaca disini

((Niza Zaniezhaa / Erniza P N / 070810445))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: