Bertahan Hidup di Halte bus Kali Mas

Citra (46), itulah nama wanita setengah baya yang bermukim di pinggir jalan Rajawali di depan Kya-Kya Surabaya. Ibu yang sudah tinggal di pinggir jalan semenjak ia lahir hingga memiliki enam orang anak yang kini sudah ada yang berkeluarga dan bersekolah di sekolah menengah pertama ini, sudah merasakan pahitnya hidup di pinggir jalan. Tak terhitung sudah berapa kali ia dan keluarganya digusur oleh SatPol PP Surabaya dan pihak kecamatan setempat yang menginginkan daerah pinggir jalan itu bersih dari pemukiman.

Di tengah megahnya pusat perbelanjaan yang menjamur dan banyaknya kompleks perumahan elite yang ada di Surabaya, ternyata masih saja ada pemukiman tidak layak yang dihuni oleh kaum seperti Ibu Citra, dibangun seadanya di pinggir jalan Rajawali Surabaya. Pemukiman berupa petak-petak berukuran 3×3 meter yang fungsinya sebagai halte bus ini, dijadikan tempat tinggal tetap wanita berkulit gelap ini. Kerutan di wajahnya seakan mencerminkan kerasnya hidup di pinggir jalan. Bayangkan , tempat yang dihuni Ibu Citra, suami, dan anak-anaknya tersebut, dinding belakangnya adalah pagar jembatan Kali Mas Surabaya, sedangkan dinding yang memisahkan ruangan tempat tiinggal itu dengan jalan raya adalah terpal yang sudah kumal. Sementara atapnya adalah atap halte bus itu. Tempat tidurnya berupa triplek (papan tipis) yang dialasi dengan selimut tua usang dan bantal seadanya. Tidak ada sekat yang memisahkan antara tempat tidur dan tempat memasak serta tempat mencuci baju. Tidak ada radio atau televisi yang biasa menghiasi ruangan tempat tinggal pada umumnya. Maklum, mereka hidup di halte bus itu tanpa listrik.

Meskipun hidup di lokasi tak layak huni dan kondisi ekonominya sangat kekurangan, tak menyurutkan semangat Ibu Citra untuk menyekolahkan anak terakhirnya, Rita, hingga bangku sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Surabaya. Suaminya yang berprofesi sebagai pemulung hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Ibu Citra. ”Maklum, pendapatan suami saya cuma 20ribu rupiah sehari, itupun kalau lagi beruntung, kalau lagi apes ya hanya 10rb rupiah saja” celoteh bu Citra ketika ditanyai tentang pendapatan suaminya.

Keinginan untuk tinggal di rumah yang layak huni hanyalah ada di benak wanita kelahiran Tulungagung 46 tahun yang lalu ini. Betapa tidak, untuk saat ini saja, dibutuhkan paling murah 1juta rupiah untuk mengontrak sebuah rumah berukuran 4×4 meter di Surabaya. Sehingga Ibu Citra terpaksa bermukim di tempat itu hingga waktu yang tak dapat dia tentukan. Pernah Ibu Citra dan penghuni halte bus lainnya digusur secara kasar oleh SatPol PP Surabaya. “Bahkan, pernah seragam sekolah anak saya dan nasi yang akan disantap hari itu ikut dirampas oleh SatPol PP Surabaya itu. Mereka itu kayak tidak punya hati saja” tutur Ibu Citra berapi-api. Ibu Citra berharap, pemerintah setempat menyediakan tempat bagi orang yang bernasib sama seperti dirinya.(revina rahmadani)

Citra : Bertahan di tepi kali mas

Citra : Bertahan di tepi kali mas

)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: