Kambing Menjajah Makam Penjajah

Siapa yang tak kenal dengan Makam Peneleh. Makam yang didirikan sekitar abad ke-18 ini identik dengan Belanda. Konon makam ini juga merupakan salah satu makam tertua di Jawa Timur.  Makam ini, dibangun tahun 1814 dan tidak lagi difungsikan sejak 1955. Makam tersebut tak terawat, sehingga ornamennya yang klasik banyak yang rusak dan dijarah.

Saat ini, Kondisi makam semakin memprihatinkan. Perawatan makam juga terkesan setengah hati. mungkin minimnya dana untuk dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya masih menjadi alasan. Ditambah lagi, bantuan dari  Pemerintah Belanda telah berhenti beberapa tahun lalu. Padahal sempat tersiar kabar, pada akhir tahun 2007 lalu, atas inisiatif Pemerintah Belanda, UNESCO sempat menyatakan akan memugar Makam Peneleh yang kini tampak berantakan itu untuk dijadikan tempat wisata. Namun belum terealisasi sampai sekarang.

Miris sekali, melihat komplek pemakaman yang memiliki arsitektur eropa abad 18 sekuat Makam Peneleh, rusak terbengkalai. Seharusnya makam dapat dijadikan areal museum sejarah. sehingga generasi muda dapat mengetahui mengenai sejarah makam tersebut. Sekaligus dapat menikmati arsitektur yang jarang ditemui di pemakaman di Surabaya pada umumnya.

Hanya sebagian kompleks pemakaman yang bisa dilalui pejalan kaki tanpa hambatan. Sisanya berjalan berhimpitan dengan rumah semi permanen di atas makam. Selain itu terdapat puluhan ayam dan kambing yang dibiarkan berkeliaran. Andai kerabat pemilik makam datang berziarah tentu sesal mereka menyertai. Bagaimana tidak, makam nenek moyang mereka rusak dimakan waktu dan akibat tangan jahil manusia.

Meski demikian, sisa-sisa keasrian masih terasa di kawasan ini. Jalan setapak berumput yang membelah areal makam cukup lega dilewati. Arsitektur makam yang kokoh memang tak lagi terlihat karena sebagian besar marmer yang melapisinya hilang dan hanya menyisakan bongkahan kecil patung-patung tanpa kepala.

Meskipun banyak ornament yang dijarah, bau pesing dan rumput liar yang tumbuh meninggi, lokasi ini tetap saja memiliki nilai lebih tersendiri bagi sebagian orang. Terlebih bagi orang yang menyukai fotografi, areal pemakaman ini cukup bagus untuk lokasi pengambilan gambar. Selamat datang di komplek pemakaman para penjajah! (Achmad Miftahuddin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: