Kue Pia Kacang Ijo “HD Tweety”

Kue Pia Kacang Ijo “HD Tweety”
Menciptakan Lapangan Pekerjaan Bukan Mencari Lapangan Pekerjaan

july 3,2009

Di sebuah rumah di Desa njekek, Kecamatan Baron, para wanita sibuk mencetak adonan Kue Pia dan para lelaki sedang sibuk mengoven. Di sudut kota kecil di daerah Kertosono inilah berdiri  sebuah home industry yang memproduksi pia kering HD Tweety. Kenapa HD?. HD merupakan singkatan nama dari dua orang pemilik usaha ini, Heri Fajar dan Dedi Haryono. “Sedangkan Tweety itu karena kami berdua suka tokoh animasi tersebut” tutur dua orang sahabat yang notabenenya pernah mengikuti sekolah Tata Boga. Berawal dari sekedar ingin mencoba-coba berwirausaha Dedi dan Hery memberanikan diri untuk mencari modal pinjaman. Dan ternyata usaha mereka patut di acungi jempol.
Usaha yang  baru dirintis sejak 6bulan lalu ini berkembang cukup pesat. Tiap harinya mereka mampu memproduksi 12ribu kue. Hal ini karena mereka ulet dan selalu menjaga kualitas dari Pia HD Tweety. Berkunjung ke tempat pembuatan Pia Kacang ijo ini membuat saya ingin mencoba membantu mencetak Kue Pia. Para karyawan serta pemiliknya pun juga ramah-ramah meskipun pekerjaan saya agak berantakan.
Oke
Membantu mencetak Kue Pia membuat saya lapar dan tergiur untuk mengincipi Kue tersebut. Apalagi setelah mencium bau harum Kue Pia yang baru keluar dari oven membuat saya semakin tergoda untuk mencomot salah satu Kue tersebut. Nyam..nyam…rasanya? Hemm…tidak di ragukan lagi, paduan dari kulit yang membalut kacang ijo dengan komposisi tepung, gula,  telur, margarine, serta minyak kelapa sawit, dan kemudian di oven sampai garing. Mampu menggoyang lidah para penikmatnya. Kresh..di luar, lembut di dalam. Menikmati Kue Pia Kacang ijo cocok sekali ditemani dengan secangkir kopi panas atau teh hangat sembari bersantai dengan keluarga.
Produk HD Tweety ini disajikan dalam tiga kemasan, kemasan roll isi enam yang biasanya dijual dipasaran dengan harga Rp.2500,-, kemasan mika isi 12 biji dengan harga Rp.5.000,- dan kemasan toples dengan harga Rp.10.000 + toples Rp.5.000,-. Pemasarannya juga tidak hanya sebatas di daerah Kertosono, akan tetapi juga mencapai Madiun, Kediri, Ponorogo, Surabaya, Jombang, Magetan dan Pare.

Duo GJ
Dedi dan Hery memang sosok anak muda yang kreatif. Meskipun mereka masih muda tapi mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk warga Desa jekek. Hingga saat ini ada 30 karyawan yang bekerja di home industry tersebut. Para karyawan tersebut bekerja dengan sisitem borongan sesuai dengan bagian masing-masing. Gaji yang mereka peroleh di bayar setiap akhir pekan.
Di tengah-tengah ketatnya kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan, rasanya tidak ada salahnya kalau memberanikan diri untuk menciptakan lapangan pekerjaan, bukan malah mencari. Kalau anda ingin bewira usaha, kenapa tidak?. Mulailah dari sekarang.(Ari novitasari/070810657)

Campur Sari Arjuna
Berharap Tak Kalah dengan Electone
Campur Sari, sebuah kesenian tradisional yang kehadirannya mensaratkan budaya Jawa rupanya masih tetap eksis di tengah era musik pop. Alunan gamelan Jawa diiringi gendang mengiringi penyanyi mendendangkan gending-gending (lagu) Jawa yang kental dengan cengkok khasnya. Campur Sari Arjuna, salah satu grup campur sari dari desa Bayem Taman, Ngawi mencoba menghidupkan dapur mereka dengan menjual jasa hiburan. Berikut perjalanan Campur Sari Arjuna yang meski berada di desa namun mampu merambah pentas kota.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi pasangan Sukamto,35, dan Djarwati,35, dalam mengenalkan Campur Sari Arjuna milik mereka. Berdiri di tahun 2004, personil Campur Sari Arjuna sempat tidak diberi honor selama dua tahun karena masa promosi dan perbaikan alat. Namun ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat grup ini untuk terus berlatih dan menghibur para penggemarnya. Terbukti, saat ini grup Campur Sari Arjuna sudah terkenal hingga luar kota. Mereka pernah pentas di Bojonegoro, Sragen, dan kota-kota lain sekitar Ngawi.
Selaku pemilik, Sukamto menjelaskan bahwa selain untuk mencari nafkah, kehadiran Campur Sari Arjuna juga bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Komitmen dalam pengembangan kesenian menjadikan Sukamto dan istri semakin getol dalam mengembangkan grup mereka. Nama Arjuna sendiri merupakan kepanjangan dari Andarbeni (saling menghargai), Rumongso (perasa), Jujur, Ulet, Narimo (mau menerima), dan Amor Bolo (berkumpul bersama teman). Sebuah nama yang memilki arti pentingnya menjalin relasi dengan orang lain tersebut merupakan motivasi bagi grup Campur Sari ini.
Campur Sari Arjuna terdiri dari 15 personil yaitu 3 vokalis, 1 MC, 2 perlengkapan, dan 9 pemain alat music. “Yang ngemci ya saya sendiri, sedangkan istri membantu menyanyi lagu-lagu campur sari,” kata Sukamto sambil memperlihatkan senyum sumringah meski badannya sedikit capek karena baru pulang tanggapan (pentas). Diakunya bahwa semua personil campur sarinya tidak terikat. Hal ini berarti, mereka boleh ikut kelompok campur sari lain. “Mboten purun (tidak mau) terikat, jadi kalau ada yang nanggep kita cari personil. Kalau pas lagi tidak main,ya kita ambil untuk main,”tambahnya.
Berbagai suka mengiringi perjalanan Campur Sari Arjuna. Namun tak jarang, batu kerikilpun kerap menyandung langkah mereka. Rasa suka itu hadir ketika banyak tawaran job datang menghampiri, khususnya di bulan Syawal, Besar, Rejeb, dan Ruwah. Menurut penanggalan Jawa, bulan-bulan tersebut adalah bulan yang bagus untuk melaksanakan hajatan. Dalam sebulan mereka bisa pentas hingga 10 kali dengan dibayar 1,5 juta per hari dalam acara-acara seperti khitanan, hajatan, maupun resepsi pernikahan. Namun, jika bulan Suro dan Sela datang, mereka tak lagi main karena adat Jawa tidak memperbolehkan adanya kegiatan dalam bulan tersebut. Dengan semakin banyaknya job yang mampir, relasi dan pengalaman merekapun semakin bertambah. Kegembiraan datang ketika banyak yang mengenal keberadaan mereka serta kagum akan kepiawaian Campur Sari Arjuna, dalam menghipnotis para penonton lewat lantunan music Campur Sari.
Grup yang mendapat bantuan alat music dari Kabupaten ini mengaku bahwa sekarang mereka mempunyai banyak pesaing. Pesaing-pesaing tak hanya berasal dari kelompok Campur Sari lain, namun juga berasal dari kemajuan jaman yang semakin meminggirkan kesenian tradisional. “Sekarang orang-orang suka yang simpel dan ringkes. Kita harus bersaing dengan electone campur sari,”kata Djarwati mengeluhkan nasib campur sari tradisional. Berbagai perbaikan kualitas telah dilakukan Sukamto dan Djarwati, mulai dari pembenahan alat yang ditambah dengan drum pemberian pemerintah sampai peningkatan kualitas olah vocal para vokalis.
Pasangan yang dikaruniai satu anak ini, Irfan Rifa’I,10, belum menemukan kader-kader muda penerus Campur Sarinya. Meski begitu, semangat mereka menghibur tak akan pudar hingga lanjut usia. Mereka akan terus bercampur sari sambil mencari pengganti, para muda yang punya komitmen dalam mengembangkan campur sari dan mencintai budaya Jawa dengan tulus. (nez)
Clara Inestya Pratama
070810471

Hidup Dari dan Untuk Pigura

Suara denting paku yang dipaku, palu yang dipukul, dan berisik gergaji yang menggesek triplek saling beradu, menjadi suatu harmoni yang apik menyambut tiap orang yang berkunjung ke rumah itu. Pinggiran pigura, serbuk kayu, dan poster-poster berserakan hampir diseluruh penjuru rumah. Di rumah sederhana dengan pagar tinggi itu, terasa ada banyak kegiatan yang sedang berlangsung disana.

Dengan perasaan was-was, aku memencet tombol bel di sebelah pagar rumah. Takut bila tak ada orang. Untungnya, tak lama keluarlah seorang pemuda dengan tangan belepotan serbuk kayu. Dia mempersilahkan aku untuk masuk dulu, sambil menunggunya memanggilkan si empunya rumah. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya keluarlah seorang bapak paruh baya yang tampaknya habis sibuk mengerjakan sesuatu.

Bapak itu mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya yang ramai dengan bahan pigura dan poster. Ia mempersilahkan aku masuk ke dalam ruang tengah karena lebih luas dan tidak penuh dengan barang-barang. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku, bapak itupun mengerti dan mengizinkan aku untuk mewawancarainya.

PICT0135

Pak Jais

Jais, nama bapak itu. Seorang usahawan dalam bidang pigura. Ia menjalankan sebuah home industry di rumahnya yang terletak di Banyu Urip Wetan 5/5A. Bisnis pigura mulai ia tekuni sejak tahun 1995. Ia tidak membuat pigura dari dasarnya, tetapi tinggal merakitnya. Jadi, ia membeli batang kayu pinggiran pigura, kaca, serta poster untuk kemudian dirangkai menjadi suatu pigura utuh yang cantik.

“Biasanya desainnya macam-macam, ada yang kaligrafi, bunga, pemandangan”, ujar Jais. Pigura yang telah jadi itu kemudian ia kirim ke Pasar Turi, diambil sendiri oleh pembelinya, atau dikirim langsung ke rumah pemesan. Ia jarang melayani pesanan karena tidak suka keribetannya. Bila ada pesanan yang repot, cenderung ia alihkan ke orang lain karena ia hanya mengeluarkan produk, jadi tidak terikat pembeli.

Awal mula ia tertarik terjun ke dunia pigura ini dimulai ketika Jais masih bekerja di Pasar Turi sebagai karyawan toko kerajinan. Ia melihat ada orang yang menjual pigura, dan tak tahu kenapa ia mulai berminat untuk melakoni bisnis yang sama, bersama temannya. Semuanya berjalan dengan sendirinya, tidak ada paksaan. Sebagai permulaan, pria berusia 36 tahun ini menjual pigura hasil kreasinya dengan cara menitipkannya di toko lain, sambil tetap bekerja sebagai karyawan.

Lama-kelamaan usahanya mulai berkembang, hingga akhirnya ia bisa memiliki ruko sendiri di pasar turi sebagai galerinya. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, Pasar Turi tiba-tiba saja terbakar sekitar tahun 1997, menyebabkan bisnis Jais yang baru berkembangpun hancur. Namun ia tak menyerah, ia memulai lagi segalanya dari nol. Sekarang ia mengerjakan usahanya di rumah. Bila dananya sudah cukup, ia berencana akan membeli toko lagi. Pria lulusan SMP ini tetap fokus menekuni dunia pigura, tidak ada pekerjaan sampingan yang lain.

Pertama kali memulai bisnisnya ia membutuhkan modal sebesar Rp200.00,00. Modal itu ia gunakan untuk membeli kayu, poster, dan peralatan lainnya. Kayunya ia beli dari Mojokerto dilangganannya. Selanjutnya pigura itu ia jual dengan harga yang bermacam-macam, tergantung dari ukuran dan kualitasnya. Yang paling mahal ia pernah menjual sebesar Rp1.500.000,00 sedang yang paling murah sebesar Rp50.000,00. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Surabaya, Jakarta, Malang, dan lain-lain. Selama ini ia belum pernah mendapatkan masalah apa-apa, semuanya aman terkendali.

PICT0141

Proses pembungkusan

Untuk membuat pigura yang telah berisi gambar itu pertama-tama disiapkan poster gambar sesuai yang diinginkan. Selanjutnya ditempelkan di triplek dengan lem kayu, lalu diberi pinggiran dua lapis dari kertas karton dua warna. Biasanya triplek itu didapatkan di Surabaya, ada distributornya sendiri. Lalu di pasangkan ke pigura yang telah dirakit dan diamplas sebelumnya. Setelah itu pigura dicat, diberi kaca, dan dibersihkan. Proses selanjutnya tinggal diberi pinggiran pembungkus agar tidak tergores selama pengiriman, biasanya dari koran untuk yang murah, sedang yang mahal dari kertas karton tebal. “Tidak ada yang sulit selama proses pembuatannya karena tinggal merakit saja”, ungkap pria kelahiran 12 Maret 1973 ini.

Selama menekuni jalur pigura ini, tidak henti-hentinya cobaan ia rasakan, mulai dari istri yang sakit sampai meninggal, toko kebakaran, sampai bapaknya yang meninggal juga. Namun ia tidak pernah menyerah. Pria kelahiran Bojonegoro ini tetap mau berusaha dan tidak takut untuk memulai lagi dari awal. “Yang namanya hidup itu nggak selalu diatas, kadang dibawah, jadi ya…sebagai manusia kita cuma bisa berusaha aja, sambil berdoa tentu saja…”, ujar Jais sambil tersenyum. Selama berbincang dengannya tak henti-hentinya senyum ramah selalu mengembang di wajahnya.

Hasil yang sudah jadi 
Pigura yang sudah jadi

“Senengnya itu karena kerjaannya bebas, tidak terikat atasan, dan sebagainya”, terang Jais. Bapak beranak dua ini biasanya membuat pigura dalam jumlah eceran dan partai atau besar. Ia sekarang memiliki tiga orang pegawai, perlahan tapi pasti ia mulai melangkah ke atas lagi menuju kesuksesan.

“Saya itu, ya pemimpin, ya karyawan…”, ungkap Jais dengan rendah hati. Tidak ada manajemen di industrinya, semuanya ia yang menentukan. Tapi ia tidak hanya memerintah saja, ia juga tetap turut membuat pigura sendiri. Untuk kedepannya ia tidak tahu apakah anaknya akan mengikuti jejaknya atau tidak, yang pasti ia tidak mau memaksa, ia ingin anaknya mencari jalannya sendiri.

Persaingan bisnis dunia pigura ini diakuinya sangat ketat, banyak pesaingnya. Namun, ia tetap percaya bisnisnya mampu bertahan. ” Pokoknya harus pantang menyerah…!” jelas Jais dengan mantap. Kata kuncinya adalah telaten dan tekun menjalani apa yang telah dipilih, suatu saat Tuhan pasti memberikan jalan. Yang penting kita tidak pernah putus asa dan tetap percaya pada apa yang kita yakini. (Luciana Retno Prastiwi/070810009)

Pulang Pergi, Demi Sebuah Harapan

Surabaya,-Tanjung Perak, tepi laut, siapa suka boleh ikut…..”. Itulah slah satu lirik lagu yang tentunya sudah tak asing lagi di telingan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Timur. Salah satu lirik lagu yang menyiratkan keadaan kota Pahlawan ini. Dengan total penduduk yang mencapai hampir 3 juta juga sebagai pusat perindustrian, perdagangan, dan bisnis, yang menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota tujuan para imigran.. Mereka memiliki harapan besar, yakni memperoleh kehidupan yang lebih baik di tengah kerasnya kota metropolitan terbesar ke 2 setelah Jakarta, dan dampak krisis global yang tengah mendera bangsa ini.

Ditemui di rumahnya, Wendi, sedang menggendong anaknya yang masih balita. Nampak dari raut mukanya, dia begitu lelah setelah semalaman bekerja di salah satu perusahaan call centre di Surabaya. Saat itu memang dia mendapat shift malam. Yah, itulah Wendi, (35), dia adalah salah satu dari sekian banyak penglaju yang harus pulang pergi Surabaya Sidoarjo atau luar kota untuk sebuah harapan kecil. Harapan mempertahankan hidup di tengah krisis yang mendera bangsa ini. Lelaki yang mendapat gelar Strata 1 (S1) di Universitas Bhayangkara ini mulai bercerita mengenai pengalamannya. “Saya sudah 3 tahun bekerja di Surabaya”, tuturnya. Meski mengaku lelah , namun bekerja di Surabaya harus tetap dia lakukan. Karena ayah satu anak kini harus menanggung biaya hidup kedua orang tua, adik, istri, dan seorang anaknya.

Di rumah kontrakan yang berukuran 10 x 18 itu dia tinggal bersama anak dan istri. Sementara kedua orang tua dan adiknya tinggal tak jauh dari situ. Selain menjadi karyawan swasta, orang yang hobi sepak bola ini juga memiliki usaha dagang serba – serbi olahraga. “Saya baru 3 bulan ini mencoba usaha ini, dan alhamdulilah lancar”, ujarnya dengan senyum.Di depan rumahnya yang beralamatkan Jalan Wedoro Madrasah no.46 ini terdapat toko berukuran 3 x 4 untuk memamerkan dagangannya. Barang dagangannya antara lain kaos tas, celana pendek, sampai pakaian anak – anak. Semuanya masih tak jauh dari unsur sepak bola.“Selain untuk mencari laba, usaha saya ini juga mendukung hobi saya akan sepak bola”, imbuhnya. Inilah usaha yang dia tekuni 3 bulan terakhir, tentunya selain menjadi karyawan swasta.

Wendi sendiri sudah 3 tahun bekerja di salah satu perusahaan call centre di Surabaya. Kantornya terletak di daerah Menur, kurang lebih 15 km dari rumahnya. “ Di kantor ada 2 shift mbak, sore dan malam”, terangnya memperjelas. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk menempuh harak dari rumah ke kantornya. “ Telat adalah hal yang sudah wajar, hamper setiap hari harus gelisah , apalagi kalau sedang macet”, ujarnya mengisahkan. Itulah hidup yang harus dia lakukan setiap hari, perasaan gelisah, khawatir, sudah menjadi bagian yang biasa dari hidupnya

Faktanya, masih banyak Wendi – Wendi lain di luar sana. Orang yang harus berjuang dan menggantungkan harapannya pada kota Surabaya. Tak hanya sekedar pulang pergi Surabaya Sidoarjo. mungkin lain daerah yang lebih jauh jarak geografisnya dari Surabaya.Inilah hidup, yang setiap saat harus berjuang untuk tetap bertahan dan tentunya demi sebuah harapan. Harapan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, orang tua, keluarga, bahkan orang lain.

Oleh : Ayu Retma N. S.

Bertahan Hidup di Halte bus Kali Mas

Citra (46), itulah nama wanita setengah baya yang bermukim di pinggir jalan Rajawali di depan Kya-Kya Surabaya. Ibu yang sudah tinggal di pinggir jalan semenjak ia lahir hingga memiliki enam orang anak yang kini sudah ada yang berkeluarga dan bersekolah di sekolah menengah pertama ini, sudah merasakan pahitnya hidup di pinggir jalan. Tak terhitung sudah berapa kali ia dan keluarganya digusur oleh SatPol PP Surabaya dan pihak kecamatan setempat yang menginginkan daerah pinggir jalan itu bersih dari pemukiman.

Di tengah megahnya pusat perbelanjaan yang menjamur dan banyaknya kompleks perumahan elite yang ada di Surabaya, ternyata masih saja ada pemukiman tidak layak yang dihuni oleh kaum seperti Ibu Citra, dibangun seadanya di pinggir jalan Rajawali Surabaya. Pemukiman berupa petak-petak berukuran 3×3 meter yang fungsinya sebagai halte bus ini, dijadikan tempat tinggal tetap wanita berkulit gelap ini. Kerutan di wajahnya seakan mencerminkan kerasnya hidup di pinggir jalan. Bayangkan , tempat yang dihuni Ibu Citra, suami, dan anak-anaknya tersebut, dinding belakangnya adalah pagar jembatan Kali Mas Surabaya, sedangkan dinding yang memisahkan ruangan tempat tiinggal itu dengan jalan raya adalah terpal yang sudah kumal. Sementara atapnya adalah atap halte bus itu. Tempat tidurnya berupa triplek (papan tipis) yang dialasi dengan selimut tua usang dan bantal seadanya. Tidak ada sekat yang memisahkan antara tempat tidur dan tempat memasak serta tempat mencuci baju. Tidak ada radio atau televisi yang biasa menghiasi ruangan tempat tinggal pada umumnya. Maklum, mereka hidup di halte bus itu tanpa listrik.

Meskipun hidup di lokasi tak layak huni dan kondisi ekonominya sangat kekurangan, tak menyurutkan semangat Ibu Citra untuk menyekolahkan anak terakhirnya, Rita, hingga bangku sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Surabaya. Suaminya yang berprofesi sebagai pemulung hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Ibu Citra. ”Maklum, pendapatan suami saya cuma 20ribu rupiah sehari, itupun kalau lagi beruntung, kalau lagi apes ya hanya 10rb rupiah saja” celoteh bu Citra ketika ditanyai tentang pendapatan suaminya.

Keinginan untuk tinggal di rumah yang layak huni hanyalah ada di benak wanita kelahiran Tulungagung 46 tahun yang lalu ini. Betapa tidak, untuk saat ini saja, dibutuhkan paling murah 1juta rupiah untuk mengontrak sebuah rumah berukuran 4×4 meter di Surabaya. Sehingga Ibu Citra terpaksa bermukim di tempat itu hingga waktu yang tak dapat dia tentukan. Pernah Ibu Citra dan penghuni halte bus lainnya digusur secara kasar oleh SatPol PP Surabaya. “Bahkan, pernah seragam sekolah anak saya dan nasi yang akan disantap hari itu ikut dirampas oleh SatPol PP Surabaya itu. Mereka itu kayak tidak punya hati saja” tutur Ibu Citra berapi-api. Ibu Citra berharap, pemerintah setempat menyediakan tempat bagi orang yang bernasib sama seperti dirinya.(revina rahmadani)

Citra : Bertahan di tepi kali mas

Citra : Bertahan di tepi kali mas

)

Ketulusan Si Nyentrik Berbalaskan Cepek

Jika melintasi pertigaan jalan Kutisari Selatan Surabaya di sore hari, kita akan bertemu dengan sosok seorang polisi cepek pengatur lalu lintas yang berpakaian serta berdandan unik bin nyenrtrik. Sambil mengibarkan bendera merah di tangannya, Ia seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar yang melintasi pertigaan tersebut.

Adalah Sutrisno, seorang polisi cepek yang berbeda dengan polisi cepek lainnya. Tidak hanya sekedar mengatur lalu lalang kendaraan, tetapi juga menjadi sarana “hiburan” bagi siapa saja yang melintas di pertigaan tersebut. Setiap harinya ia selalu mengenakan kostum yang berbeda-beda, bahkan kostum tersebut terkadang disesuaikan dengan tema-tema tertentu. Misalnya, mengenakan kostum tentara pada saat Agustusan, kostum sinterklas di saat Hari Raya Natal, hingga baju khas jenderal ketika almarhum mantan Presiden Soeharto meninggal dunia.

Berawal ketika melihat pertengkaran antar pengendara mobil yang saling tidak mau mengalah di pertigaan tersebut, Sutrisno akhirnya berinisiatif untuk mengatur pertigaan dengan kostum serta dandanan unik. ” Semoga dengan saya berdandan aneh-aneh seperti ini dapat menghibur para pelintas jalan yang sering emosi ketika berkendara. Dengan begitu, tidak akan lagi terjadi pertengkaran seperti yang pernah saya jumpai beberapa tahun lalu.” ungkap lelaki yang akrab dipanggil Sutris ini.

Sutris yang sehari-harinya juga mengumpulkan barang – barang bekas dengan becaknya, mengakui bahwa sejumlah seratus kostum lebih yang ia miliki diperolehnya dari pemberian orang, sisa-sisa kain perca tukang jahit, hingga memungut potongan barang bekas dan sampah.

Tidak ada niatan sedikitkun dalam benaknya untuk memperoleh keuntungan sebagai polisi cepekan. Niat lelaki asal Banyuwangi ini tulus untuk mengatur sambil menghibur para pelintas jalan. Namun sangat disayangkan niat baik Sutrisno bagai gayung tak bersambut. Tidak sedikit yang mengiranya orang tidak waras. Bahkan, anak-anak kecil sekitar pada awalnya takut pada Sutrisno karena dikira orang gila. ”Banyak orang yang tertawa sampai heran jika melihat saya. Namun kini hal tersebut sudahlah biasa bagi saya. La wong niat saya menghibur kok!” tukas Sutris sambil tertawa jenaka.

Setiap hari Sutrisno bekerja dari pukul satu siang hingga duabelas malam. pengabdiannya sebagai polisi cepek sukarela, Ia hanya mendapatkan sekitar Rp 70.000,- per hari. Namun jika sedang ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp.150.000,-.(zaq)

Mohammad Zaki 070810463

Keceriaan Di Balik Kerasnya Kehidupan Jalanan

“Mas, Dimas ayo maen, nang kono lho!” ucap Bocah berumur 3 tahun yang mengajak temannya bermain. Keceriaan tampak di raut wajah bocah itu. Ia dengan semangat berlari ke jalan sambil memutarkan tangannya ke atas berulang kali. “Ayo Ris, cepetan larine, ojok suwi – suwi” timpal teman bocah itu, yang umurnya sebaya. Setelah sampai di tempat bermainnya, mereka dengan ceria bermain petak umpet. Keceriaan mereka mengalahkan ramainya suara lalu lalang kendaraan yang melintas di Jalan Rajawali. Ketakutan tak tampak sedikitpun di wajah mereka, walaupun keadaan jalan sangat ramai dan banyak kendaraan yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Ceria : Fariz dan Dimas sedang bermain di jalanan

Ceria : Fariz dan Dimas sedang bermain di jalanan

Dimas dan Fariz, itulah mereka. Bocah berumur 3 tahun yang tinggal dipinggir Kali Mas di Jalan Rajawali. Mereka menghuni tempat yang tidak layak huni. Beralaskan kerdus bekas, berdinding terpal, dan beratapkan tembok bekas halte bis. Di situlah mereka tinggal dan dibesarkan. Mereka tinggal bersama kedua orang tuanya dan beraktivitas mulai bangun tidur, makan, hingga tidur kembali di tempat yang sama. Tidak ada ruang atau sekat yang memisahkan tempat tidur dan dapur yang sebenarnya tidak layak disebut dapur. Tempat tinggal berukuran 4 x 4 meter adalah tempat mereka bermain dan mengenal pelajaran baru di kehidupan yang keras.

Deru suara kendaraan, asap polusi, dan bau kali yang tidak sedap menjadi santapan sehari – hari bagi mereka. Bagi anak – anak seumurnya tempat itu seharusnya tak lazim untuk di tinggali. Tetapi kedua balita kecil ini seakan tak peduli, keceriaan tetap nampak di raut wajah kedua bocah ini. Senyuman selau tersungging di bibir manis mereka. “Main di jalan asik mas” ucap Fariz saat di tanya perasaan mereka saat bermain di jalan. Tempat yang dingin, aman, dan penuh dengan mainan adalah tempat yang semestinya mereka huni. Bukan jalanan yang penuh bahanya, kendaraan, dan kekerasan yang kerap kali menimpa anak jalanan.

Itulah kisah kedua bocah yang bahkan belum mampu menyebutkan nama lengkapnya, tetapi dengan usia yang sangat muda harus menghadapi kerasnya kehidupan jalanan di kota Surabaya. Pemerintah semestinya memfokuskan perhatian pada penerus bangsa ini, terutama anak jalan seperti Dimas dan Fariz. Akankah pemerintahan selanjutnya akan memperbaiki kehidupan mereka? Ataukah hanya sebuah janji belaka? Tentu kita tidak ingin ada lagi anak – anak Indonesia yang bernasib seperti Dimas dan Fariz. (De Laguna Latanri Putera / 070810654)