Hidup Dari dan Untuk Pigura

Suara denting paku yang dipaku, palu yang dipukul, dan berisik gergaji yang menggesek triplek saling beradu, menjadi suatu harmoni yang apik menyambut tiap orang yang berkunjung ke rumah itu. Pinggiran pigura, serbuk kayu, dan poster-poster berserakan hampir diseluruh penjuru rumah. Di rumah sederhana dengan pagar tinggi itu, terasa ada banyak kegiatan yang sedang berlangsung disana.

Dengan perasaan was-was, aku memencet tombol bel di sebelah pagar rumah. Takut bila tak ada orang. Untungnya, tak lama keluarlah seorang pemuda dengan tangan belepotan serbuk kayu. Dia mempersilahkan aku untuk masuk dulu, sambil menunggunya memanggilkan si empunya rumah. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya keluarlah seorang bapak paruh baya yang tampaknya habis sibuk mengerjakan sesuatu.

Bapak itu mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya yang ramai dengan bahan pigura dan poster. Ia mempersilahkan aku masuk ke dalam ruang tengah karena lebih luas dan tidak penuh dengan barang-barang. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku, bapak itupun mengerti dan mengizinkan aku untuk mewawancarainya.

PICT0135

Pak Jais

Jais, nama bapak itu. Seorang usahawan dalam bidang pigura. Ia menjalankan sebuah home industry di rumahnya yang terletak di Banyu Urip Wetan 5/5A. Bisnis pigura mulai ia tekuni sejak tahun 1995. Ia tidak membuat pigura dari dasarnya, tetapi tinggal merakitnya. Jadi, ia membeli batang kayu pinggiran pigura, kaca, serta poster untuk kemudian dirangkai menjadi suatu pigura utuh yang cantik.

“Biasanya desainnya macam-macam, ada yang kaligrafi, bunga, pemandangan”, ujar Jais. Pigura yang telah jadi itu kemudian ia kirim ke Pasar Turi, diambil sendiri oleh pembelinya, atau dikirim langsung ke rumah pemesan. Ia jarang melayani pesanan karena tidak suka keribetannya. Bila ada pesanan yang repot, cenderung ia alihkan ke orang lain karena ia hanya mengeluarkan produk, jadi tidak terikat pembeli.

Awal mula ia tertarik terjun ke dunia pigura ini dimulai ketika Jais masih bekerja di Pasar Turi sebagai karyawan toko kerajinan. Ia melihat ada orang yang menjual pigura, dan tak tahu kenapa ia mulai berminat untuk melakoni bisnis yang sama, bersama temannya. Semuanya berjalan dengan sendirinya, tidak ada paksaan. Sebagai permulaan, pria berusia 36 tahun ini menjual pigura hasil kreasinya dengan cara menitipkannya di toko lain, sambil tetap bekerja sebagai karyawan.

Lama-kelamaan usahanya mulai berkembang, hingga akhirnya ia bisa memiliki ruko sendiri di pasar turi sebagai galerinya. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, Pasar Turi tiba-tiba saja terbakar sekitar tahun 1997, menyebabkan bisnis Jais yang baru berkembangpun hancur. Namun ia tak menyerah, ia memulai lagi segalanya dari nol. Sekarang ia mengerjakan usahanya di rumah. Bila dananya sudah cukup, ia berencana akan membeli toko lagi. Pria lulusan SMP ini tetap fokus menekuni dunia pigura, tidak ada pekerjaan sampingan yang lain.

Pertama kali memulai bisnisnya ia membutuhkan modal sebesar Rp200.00,00. Modal itu ia gunakan untuk membeli kayu, poster, dan peralatan lainnya. Kayunya ia beli dari Mojokerto dilangganannya. Selanjutnya pigura itu ia jual dengan harga yang bermacam-macam, tergantung dari ukuran dan kualitasnya. Yang paling mahal ia pernah menjual sebesar Rp1.500.000,00 sedang yang paling murah sebesar Rp50.000,00. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Surabaya, Jakarta, Malang, dan lain-lain. Selama ini ia belum pernah mendapatkan masalah apa-apa, semuanya aman terkendali.

PICT0141

Proses pembungkusan

Untuk membuat pigura yang telah berisi gambar itu pertama-tama disiapkan poster gambar sesuai yang diinginkan. Selanjutnya ditempelkan di triplek dengan lem kayu, lalu diberi pinggiran dua lapis dari kertas karton dua warna. Biasanya triplek itu didapatkan di Surabaya, ada distributornya sendiri. Lalu di pasangkan ke pigura yang telah dirakit dan diamplas sebelumnya. Setelah itu pigura dicat, diberi kaca, dan dibersihkan. Proses selanjutnya tinggal diberi pinggiran pembungkus agar tidak tergores selama pengiriman, biasanya dari koran untuk yang murah, sedang yang mahal dari kertas karton tebal. “Tidak ada yang sulit selama proses pembuatannya karena tinggal merakit saja”, ungkap pria kelahiran 12 Maret 1973 ini.

Selama menekuni jalur pigura ini, tidak henti-hentinya cobaan ia rasakan, mulai dari istri yang sakit sampai meninggal, toko kebakaran, sampai bapaknya yang meninggal juga. Namun ia tidak pernah menyerah. Pria kelahiran Bojonegoro ini tetap mau berusaha dan tidak takut untuk memulai lagi dari awal. “Yang namanya hidup itu nggak selalu diatas, kadang dibawah, jadi ya…sebagai manusia kita cuma bisa berusaha aja, sambil berdoa tentu saja…”, ujar Jais sambil tersenyum. Selama berbincang dengannya tak henti-hentinya senyum ramah selalu mengembang di wajahnya.

Hasil yang sudah jadi 
Pigura yang sudah jadi

“Senengnya itu karena kerjaannya bebas, tidak terikat atasan, dan sebagainya”, terang Jais. Bapak beranak dua ini biasanya membuat pigura dalam jumlah eceran dan partai atau besar. Ia sekarang memiliki tiga orang pegawai, perlahan tapi pasti ia mulai melangkah ke atas lagi menuju kesuksesan.

“Saya itu, ya pemimpin, ya karyawan…”, ungkap Jais dengan rendah hati. Tidak ada manajemen di industrinya, semuanya ia yang menentukan. Tapi ia tidak hanya memerintah saja, ia juga tetap turut membuat pigura sendiri. Untuk kedepannya ia tidak tahu apakah anaknya akan mengikuti jejaknya atau tidak, yang pasti ia tidak mau memaksa, ia ingin anaknya mencari jalannya sendiri.

Persaingan bisnis dunia pigura ini diakuinya sangat ketat, banyak pesaingnya. Namun, ia tetap percaya bisnisnya mampu bertahan. ” Pokoknya harus pantang menyerah…!” jelas Jais dengan mantap. Kata kuncinya adalah telaten dan tekun menjalani apa yang telah dipilih, suatu saat Tuhan pasti memberikan jalan. Yang penting kita tidak pernah putus asa dan tetap percaya pada apa yang kita yakini. (Luciana Retno Prastiwi/070810009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: